Membaca adalah sebuah kewajiban?


Membaca adalah kenikmatan tersendiri dalam jiwa, merupakan hidangan bagi akal, ilmu dan ruh. Dengan membaca seseorang dapat merasa bersatu dengan berbagai zaman dan tempat, seakan-akan dia bersama dengan seluruh ummat manusia di mana pun mereka berada dan ke mana pun mereka pergi. Membaca merupakan mata air yang jernih, karena merupakan pengalaman yang teruji coba, yang mengguyurkan petunjuk dan penjelasan, nasihat, bimbingan dan pengetahuan.

Membaca adalah wisatanya akal manusia menuju taman-taman kehidupan di masanya, menuju atsar peninggalan orang yang terdahulu dan menuju harapan di masa yang akan datang. Membaca akan mengantarkan kita dari alam yang sempit dan terbatas menuju alam lain yang lebih luas cakrawalanya dan lebih jauh batasnya. Orang yang sedang membaca seakan-akan hidup di seluruh masa, di segenap kerajaan dan negeri, di seluruh kota dan perkampungan. Membaca ibarat sebuah rihlah (perjalanan) di muka bumi menuju berbagai tempat yang beraneka ragam. Seorang penulis terkadang mengajak kita untuk mendaki sebuah gunung, kemudian membawa kita turun ke lembah, lalu mengajak kita berjalan di antara taman-taman nan hijau, kemudian berpindah menuju bebatuan yang bercadas, dan seakan-akan kita bersama dengannya, tidak terpisah walau hanya sebentar. Tempat yang berjauhan tidak memisahkan antara kita dengan sang penulis tersebut. (silakan baca buku tentang pengembaraan Ibnu Bathuthah).

Dengan membaca anda seakan-akan berada di samping para penulis, para ulama dan pemikir yang anda rasakan keutamaan dan keberadaan mereka. Seorang pembaca buku sedang mengambil sesuatu yang paling baik dan indah yang diberikan oleh sahabatnya. Karena penulis tidak akan menulis di dalam kitabnya kecuali apa-apa yang memberikan faidah, pengalaman, manfaat atau memberikan pengarahan dengan memilih kalimat yang terbaik.

Membaca menjadikan seseorang tahu tafsir dari firman-firman Allah Subhannahu wa Ta’ala yang merupakan masalah paling penting. Dia dapat menggali perbendaharaannya, ilmu dan hukum-hukumnya, dia akan tahu yang halal dan yang haram, yang muhkam dan mutasyabih, tahu perumpamaan, kabar gembira, peringatan, nasehat dan kisah-kisah yang berguna. Dengan membaca pula seseorang akan tahu sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam yang merupakan bagian dari al-Qur’an dan sumber hukum ke dua dalam syari’at Islam. Dia menafsirkan dan menjelaskan al-Qur’an, menjadi dalil dan memberikan pelajaran serta ibrah.

Dengan membaca anda tahu perjalanan hidup Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan akhlaq beliau yang merupakan nasehat dan pelajaran bagi kita semua. Pada diri beliau terdapat contoh yang baik bagi kita. Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau. Dengan membaca pula anda tahu ilmu-ilmu orang yang terdahulu dan yang akhir, tahu keadaan manusia di masa lampau dan penerusnya. Seorang yang membaca meskipun sedang duduk di dalam rumah atau di perpustakaan, namun akal dan fikirannya sedang berjalan-jalan menuju seluruh penjuru bumi.

Melalui membaca akan diketahui dan dibedakan antara yang halal dan yang haram, yang wajib, yang mustahab (sunnah), yang makruh dan yang mubah. Dengannya diketahui pula jalan kebaikan dan kebahagiaan, jalan yang buruk dan menuju kecelakaan, bagaimana amalan yang dapat mengantarkan ke surga, mana perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan ke neraka dan diketahui pula sifat-sifat surga, sifat-sifat neraka serta para penghuni dari masing-masing keduanya. Dengan membaca anda akan mengetahui adanya ganjaran dan balasan bagi orang yang berbuat taat, serta hukuman dan adzab bagi orang-orang yang bermaksiat.

Demikian juga untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat serta terlepas dari kecelakaannya maka kita juga harus membaca serta mengamal kan kebaikan yang telah kita ketahui lewat membaca tersebut.

Demikanlah, dan dikarenakan ilmu adalah lautan luas yang tiada bertepi sedangkan umur manusia adalah sesuatu yang sangat pendek dan singkat maka selayaknya manusia menjaga umurnya dengan banyak membaca buku-buku yang bermanfaat serta mengamalkannya, memulai dari yang terpenting kemudian yang penting, mempelajari kitabullah dan tafsirnya serta mengamalkannya, juga mempelajari dan mengamalkan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam. Keduanya adalah sumber kebahagiaan dan keselamatan. Beliau telah bersabda, artinya,

“Sesungguhnya telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian semua bepegang teguh dengannya, maka tidak akan sesat selama-lamanya,(yaitu) Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. al-Hakim, beliau berkata sanadnya shahih).

Disadur dari kutaib, “Ahmiyatul Qira’ah wa Fawaiduha,” hal 8-14, Syaikh Abdullah bin Jarullah al-Jarullah. (Abu Ahmad Taqiyudin)

Leave a Reply