Herpes Zoster
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Varicella zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer.
Penyebarannya sama seperti varisela. Penyakit ini, merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah penderita mendapat varisela. Kadang-kadang varisela ini berlangsung subklinis. Tetapi ada pendapat yang menyatakan kemungkinan transmisi virus secara aerogen dai pasien yang sedang menderita varisela atau herpes zoster.
Golongan herpes virus atau disebut juga famili Herpesviridae merupakan virus DNA intranukleus besar yang mempunyai kecenderungan kuat untuk menimbulkan infeksi laten dan rekuren. Sejumlah penyakit viral sistemik dapat memperlihatkan manifestasi kulit berupa erupsi pada kulit seperti morbili, rubella, variola, dan roseola infantum. Virus penyebabnya dapat diasingkan dan penyakitnya dapat pula dicegah dengan vaksin. Di samping itu ada pula penyakit-penyakit lain yang secara dermatologic tidak kalah pentingnya, yaitu herpes labialis, herpes genitalis, varicella, herpes zoster dan verruca di mana pemberian kemoterapi antiviral secara efektif dapat dipertanggungjawabkan.
Pada setiap penyakit tersebut terakhir virusnya dapat diasingkan dalam biakan jaringan (tissue culture) dan atau dapat dibuktikan adanya dalam specimen dari lesi kulit dengan menggunakan mikroskop electron. Pada setiap penyakit tersebut di atas beberapa cara pengobatan yang berbeda telah dicoba di masa lampau dan sekarang obat-obat antiviral yang baru secara relative sudah dapat diperoleh dengan lebih mudah, tentunya dengan harapan bahwa obat-obat tersebut dapat digunakan dengan lebih berhasil dan lebih efektif di masa-masa mendatang.
Sebagai kelanjutan dari serangan varisela, virus yang tertinggal di bagian dorsal dari akar ganglia tetap dorman sampai suatu stimulus menyebabkan reaktivasi dan menyebabkan herpes zoster. Usia pertengahan dan usia lanjut adalah yang paling sering terkena, walau kadang-kadang bisa timbul sewaktu anak-anak. Keadaan ini lebih sering terjadi pada orang-orang dengan imunosupresi.
Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis. Kelainan kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah persarafan ganglion tersebut. Kadang-kadang virus ini juga menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranialis sehingga memberikan gejala-gejala gangguan motorik.
GEJALA KLINIS
Herpes zoster biasanya mengenai suatu dermatom, di mana yang paling sering biasanya adalah pada dada dan perut. Timbulnya erupsi mungkin didahului oleh rasa nyeri di daerah dermatom, di mana hal ini bisa menyebabkan terjadinya kesalahan diagnosis sebagai kelainan di bagian dalam. Lesi berupa sederetan kelompok vesikel unilateral dengan dasar kulit yang eritematosa. Isi vesikel pada mulanya jernih, kemudian menjadi keruh. Bisa berupa vesikel-vesikel yang menyebar menjauhi bagian tengah tubuh, dan pada usia lanjut cenderung lebih banyak. Sesudah beberapa hari vesikel mongering dan membentuk krusta, di mana pada kebanyakan kasus erupsi hilang dalam 2 minggu.
Daerah yang paling sering terkena adalah daerah torakal, walaupun daerah-daerah lain tidak jarang. Frekuensi penyakit ini pada pria dan wanita sama, sedangkan mengenai umur lebih sering pada orang dewasa.
Sebelum timbul gejala kulit terdapat gejala prodromal, baik sistemik (demam, pusing, malese), maupun gejala prodromal local (nyeri otot-tulang, gatal, pegal dan sebagainya). Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang eritematosa dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih, kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu), dapat menjadi pustul dan krusta. Kadang-kadang vesikel mengandung darah dan disebut sebagai herpes zoster hemoragik. Dapat pula timbul infeksi sekunder sehingga menimbulkan ulkus dengan penyembuhan berupa sikatriks.
Masa tunasnya 7-12 hari. Masa aktif penyakit ini berupa lesi-lesi baru yang tetap timbul berlangsung kira-kira selama seminggu, sedangkan masa resolusi berlangsung kira-kira 1-2 minggu. Di samping gejala kulit dapat pula dijumpai pembesaran kelenjar getah bening regional. Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai dengan tempat persarafan. Pada susunan saraf tepi jarang timbul kelainan motorik, tetapi pada susunan saraf pusat kelainan ini lebih sering karena struktur ganglion kranialis memungkinkan hal tersebut. Hiperestesi pada daerah yang terkena memberi gejala yang khas. Kelainan pada muka sering disebabkan oleh karena gangguan pada nervus trigeminus (dengan ganglion gaseri) atau nervus fasialis dan otikus (dari ganglion genikulatum).
Pada pasien usia lanjut penyakit ini bisa berkembang menjadi parah, sehingga perlu waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh. Bahkan pada beberapa kasus yang lebih ringan, biasanya meninggalkan beberapa jaringan parut.
Herpes zoster oftalmikus disebabkan oleh infeksi cabang pertama nervus trigeminus, sehingga menimbulkan kelainan pada mata, di samping iu juga cabang kedua dan ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah persarafannya. Sindrom Ramsay-Hunt diakibatkan oleh gangguan nervus fasialis dan otikus, sehingga memberikan gejala paralysis otot muka (paralysis Bell), kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinnitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus dan nausea, juga terdapat gangguan pengecapan. Herpes zoster abortif, artinya penyakit ini berlangsung dalam waktu yang singkat dan kelainan kulitnya hanya berupa beberapa vesikel dan eritem. Pada herpes zoster generalisata kelainan kulitnya unilateral dan segemental ditambah kelainan kulit yang menyebar secara generalisata berupa vesikel yang soliter dan ada umbilikasi. Kasus ini terutama terjadi pada orang tua atau pada orang yang kondisi fisiknya sangat lemah, misalnya pada penderita limfoma malignum.
Keadaan yang paling mengganggu pada herpes zoster adalah adanya rasa nyeri yang persisten walaupun lesi sudah hilang (postherpetic neuralgia). Gangguan ini bisa hebat, dan terutama bisa menimbulkan kesusahan pada orang-orang yang berusia lanjut. Neuralgia pascaherpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakitnya sembuh. Nyeri ini dapat berlangsung sampai beberapa bulan bahkan bertahun-tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi dalam kehidupan sehari-hari. Kecenderungan ini dijumpai pada orang yang mendapat herpes zoster di atas usia 40 tahun.
Secara ringkas, gejala klinis yang dapat ditemui pada panyakit ini meliputi :
• Mungkin timbul demam ringan dan malese 24 jam sebelum vesikel muncul.
• Vesikel biasanya terdapat di kulit secara unilateral di sepanjang dermatom yang terinfeksi. Tempat yang sering terinfeksi adalah wajah, leher, dan dada.
KOMPLIKASI
Neuralgia pascaherpetik dapat timbul pada umur di atas 40 tahun, persentasenya 10-15%. Makin tua penderita makin tinggi persentasenya.
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi. Sebaliknya pada orang yang disertai defisiensi imunitas, infeksi HIV, keganasan, atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel sering menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.
Pada herpes zoster oftalmikus dapat terjadi berbagai komplikasi, di antaranya ptosis paralitik, keratitis, skleritis, uveitis, dan neuritis optic.
Paralysis motorik terdapat pada 1-5% kasus, yang terjadi akibat penjalaran virus secara perkontinuitatum dan ganglion sensorik ke system saraf yang berdekatan. Paralysis biasanya timbul dalam 2 minggu sejak awitan munculnya lesi. Berbagai paralysis dapat terjadi, misalnya di muka, diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria, dan anus. Umumnya akan sembuh spontan.
Infeksi juga dapat menjalar ke alat dalam, misalnya paru, hepar dan otak.
PEMBANTU DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan percobaan Tzanck dapat ditemukan sel datia berinti banyak.
DIAGNOSIS BANDING
1. Herpes simpleks
2. Pada nyeri yang merupakan gejala prodromal local sering salah diagnosis dengan penyakit reumatik maupun dengan angina pectoris, jika terdapat di daerah setinggi jantung.
PENGOBATAN
Terapi sistemik umumnya bersifat simptomatik, untuk nyerinya diberikan analgetik. Jika disertai infeksi sekunder diberikan antiobiotik.
Indikasi obat antiviral ialah herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan defisiensi imunitas mengingat komplikasinya. Obat yang biasanya digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya, misalnya valasiklovir. Sebaiknya diberikan dalam 3 hari pertama sejak lesi muncul.
Dosis asiklovir yang dianjurkan ialah 5×800 mg sehari dan biasanya diberikan 7 hari, sedangkan valasiklovir cukup 3×1000 mg sehari karena konsentrasi dalam plasma lebih tinggi. Jika lesi baru masih tetap timbul obat tersebut masih dapat diteruskan dan dihentikan sesudah 2 hari sejak lesi batu tidak timbul lagi.
Isoprinosin sebagai imunostimulator tidak berguna karena awitan kerjanya baru setelah 2-8 minggu, sedangkan masa aktif penyakit kira-kira hanya seminggu.
Untuk neuralgia pascaherpetik, pengobatan sedikit lebih sulit. Obat pilihan adalah gabapentin, siklik antidepresan, dan capsaicin topical atau salep lidocaine. Analgesic opioid mungkin diperlukan. Nyeri tersebut lambat laun akan menghilang sendiri.
Indikasi pemberian kortikosteroid ialah untuk sindrom Ramsay-Hunt. Pemberian harus sedini mungkin, untuk mencegah terjadinya paralysis. Yang biasanya diberikan adalah prednisone dengan dosis 3×20 mg sehari, setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Dengan dosis prednisone setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik digabung dengan obat antiviral. Dikatakan kegunaannya untuk mencegah fibrosis ganglion.
Pengobatan topical bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila erosive, diberikan kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi, dapat diberikan salep antibiotic.
PROGNOSIS
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus prognosis bergantung pada tindakan perawatan secara dini.