Seabad Kebangkitan Nasional

Makassar, 20 Mei 2008- Hingar bingar perayaan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) begitu dominan di setiap media komunikasi pers benar-benar membuat nurani kita sebagai seorang warga negara menjadi lebih bergairah untuk ikut merayakannya. Di setiap sudut kota bisa kita lihat bagaimana pemerintah, beberapa kelompok swasta membuat hari ini terasa semarak dari sebulan yang lalu menyambut 100 tahun (seabad) harkitnas ini.

Namun hari libur nasional ini terasa begitu mencekam hati dan pikiran saya. Bagaimana tidak, sebulan yang lalu pemerintah sudah mulai mensosialisasikan kenaikan harga BBM hingga 40% yang diiringi dengan protes di setiap daerah dan juga di ibukota akan unbelieveable movement pemerintah ini. Mahasiswa tanpa henti melakukan aksi demonstrasi di masing-masing kantor perwakilan rakyat, ibu-ibu rumah tangga melakukan aksi dengan “bermain bola” dengan jerigen minyak memprotes kebijakan pemerintah dan yang paling membuat gelisah adalah harga-harga barang pokok masyarakat merangkak naik. Sungguh naas nasib bangsa ini. Di tengah merayakan harapan bangkitnya semangat kebangsaan, kondisi negara kita justru berada dalam keterpurukan tanpa henti. Masih layak kah hari ini dirayakan secara seremonial dan meriah dengan masalah bangsa yang begitu rumit hari ini? Branding “Indonesia Bisa” sebagai tema harkitnas kali ini menjadi sebuah pertanyaan di setiap warna negara kita.

Antara optimisme dan pesimisme

Konon katanya negara ini memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah dan sangat memadai untuk memakmurkan setiap warganya tanpa terkecuali. Begitu kalimat yang selalu terlontar membuat rakyat Indonesia larut dalam kebanggaan dan rasa optimisme yang tinggi. Mungkin itulah yang membuat pemerintah memilih tema “Indonesia Bisa” memperingati seabad kebangkitan nasional. Tapi apakah modal itu masih ada? Apakah laut kita hari ini mendapatkan perlindungan pemerintah? Apakah minyak dan gas bumi yang kita miliki masih cukup untuk dinikmati masyarakat? Apakah hasil hutan atau hutan itu sendiri masih dilindungi dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab? Masih terngiang di telinga kita bagaimana hutan di daerah Riau Sumatera digunduli oleh pemerintah setempat? Apakah kita sadar bahwa ditengah krisis BBM dan gas di tengah masyarakat Minyak dan gas bumi yang dimiliki bangsa kita diimpor ke luar negeri dengan harga murah? Apakah kita menutup mata akan penjualan satu per satu aset bangsa berupa BUMN?
Tragis! Di Jawa Timur uang negara dipakai untuk menggantikan kerugian masyarakat akan melubernya Lumpur Lapindo yang justru merupakan ulah dari perusahaan besar yang sahamnya justru dimiliki oleh pembesar negara seperti menteri. Apa lagi yang membuat kita bisa bangga akan negara ini? Pemerintah menjual “negaranya”, Wakil rakyat sibuk mengumpulkan kekayaan lewat proses demokrasi yang kebablasan, perusahaan-perusahaan sibuk mengeksploitasi sumber daya alam yang kian menipis, kebijakan pemerintah yang dengan cerobohnya memberikan solusi BLT (Bantuan Langsung Tunai) menanggapi kenaikan harga BBM, pemuda dan pelajar kita digerogoti dengan masalah sosial seperti penyebaran narkoba hingga tingkat pelajar sekolah dasar (SD), pengrusakan/tindak anarkis dari beberapa oknum pelajar/mahasiswa yang entah berpihak pada rakyat atau hanya ditunggangi beberapa pihak tertentu dengan gonjang-ganjing perpolitikan nasional. Hanya sebuah perubahan besar yang akan membuat bangsa ini perlahan merangkak menuju perbaikan. Tapi kapan perubahan itu dimulai? Apakah Hari ini? Hari Kebangkitan Nasional yang ke-100?

Kebangkitan atau keterpurukan Nasional

Perayaan meriah yang akan dilaksanakan elemen pemerintah dan beberapa kalangan hari ini sungguh membuat saya menjadi sedih bahkan resisten dengan acara tersebut. Bagaimana tidak, negara yang sudah diujung tanduk ini masih juga berpesta berharap ada perbaikan tanpa sebuah usaha yang logis dan terencana jangka panjang. Bangsa ini dibuat menjadi bangsa pengemis dengan BLT yang juga belum tentu sampai hingga setiap individu masyarakat tidak mampu negara ini. Pihak yang berwenang menjadi kian sewenang-wenang di kondisi yang kian parah ini. Entah apa yang ada di benak pemimpin-pemimpin bangsa ini. Di mana lagi harapan itu akan disandarkan selain di pundak mereka? Apakah “Bantuan” dari negara-negara lain yang nantinya berupa utang itu yang kemudian menghidupi keseharian warga kita?

Tuhan, tolonglah bangsa ini dari keterpurukan dan ketidaksyukuran atas apa yang Kau berikan….

Leave a Reply